Notification texts go here Contact Us Buy Now!

BAB 2 — Bangun Bukan Karena Semangat

goweb3

 

Kuat Tapi Boong


KUAT TAPI BOONG

BAB 2 — Bangun Bukan Karena Semangat


Raka bangun bukan karena mimpi indah.

Dia bangun karena mimpi buruk bernama "Tanggal Muda Tinggal Kenangan".


Jam di HP nunjukin 06.11.

Satu menit sebelum alarm bunyi.


Raka menatap layar itu lama.

Bukan karena kagum sama waktunya,

tapi karena mikir:

> Kalau gue bangun sekarang, apa yang berubah?

Jawabannya:

tetep harus berangkat.


Alarm bunyi.

Raka matiin.

Kali ini bangun beneran.

---

Di kamar mandi, Raka berdiri lama di bawah shower.

Air dingin turun.

Badan basah.

Pikiran masih kering—keras, susah ditembus.

“Orang-orang bangun pagi karena semangat ngejar mimpi,” katanya ke diri sendiri.

“Gue bangun karena takut telat.”

Takut telat kerja.

Takut ditegur.

Takut gaji kepotong.

Takut hidup makin ribet dari yang udah ribet.

Raka nyadar, rasa takut itu lebih konsisten dari motivasi.


---


Sarapan ala kadarnya.

Roti tawar.

Satu lembar.

Tanpa selai.

Karena selai cuma buat orang yang masih niat hidup.


Raka makan sambil duduk di kasur.

HP di tangan.

Scroll Instagram.

Ada yang upload:

> “Bangun pagi, kejar mimpi!”


Raka senyum kecil.


> Mimpi gue lagi cuti panjang, bro.


Dia hampir nge-like.

Hampir.


---


Di parkiran kos, Raka naik motor.

Helm dipakai, dunia langsung lebih senyap.


Di jalan, dia ngeliat orang-orang lain.

Wajah datar.

Mata kosong.

Langkah cepat.


Raka mikir:


> Ini semua orang bangun karena mimpi,

> atau sama-sama bangun karena gak ada pilihan?


Lampu merah.

Motor berhenti.

Seorang bapak di sebelahnya nguap panjang.

Seorang ibu ngecek jam.

Seorang anak sekolah ngelamun.

Satu persimpangan.

Satu nasib.


---


Sampai kantor, Raka masuk dengan senyum tipis.

Reflek.


“Pagi, Rak!”

“Udah sarapan?”

“Semangat ya!”

“Iya,” jawab Raka.

Semua dijawab dengan satu nada.

Semua orang sibuk.

Kerja.

Meeting.

Deadline.


Raka ikut arus.

Ngerjain tugas.

Beresin kerjaan.

Dia produktif.

Tapi hampa.


---


Siang hari, perut lapar.

Raka makan bareng Dito.


“Rak,” kata Dito sambil ngunyah,

“lu tuh kelihatan santai banget hidupnya.”

Raka ketawa.

“Ya biasa aja.”


Padahal dalam hati:

> Santai dari mana? Gue tegang dari bangun tidur.


Dito lanjut,

“Gue salut sih. Lu kuat.”


Raka berhenti ngunyah sebentar.

Terus ketawa lagi.


Karena kalau dia jujur, makan siang bakal berubah jadi sesi curhat.

Dan Raka belum siap.


---


Sore datang.

Capeknya bukan di badan.

Di kepala.

Kerjaan selesai, tapi rasa berat masih nempel.

Raka duduk sebentar sebelum pulang.

Bengong.

Dia mikir:


> Kalau gue berhenti sehari aja,

> apa ada yang nyariin?


HP bunyi.

Notifikasi grup kantor lagi.


> “Besok meeting pagi yaa.”


Raka bales cepat:


> “Siap 👍”

Siap kerja.

Siap capek.

Siap pura-pura kuat.

---

Malamnya, di kamar kos, Raka rebahan.

Lampu mati.

Suara kipas jadi musik pengantar mikir.


Dia nulis di notes HP:


> “Bangun bukan karena semangat.”


Dibaca lagi.

Dihapus.

Diganti:


> “Hari ini lancar.”


Karena kalimat kedua lebih aman.

Raka nutup mata.

Besok alarm bakal bunyi lagi.

Dan Raka tau…

dia bakal bangun lagi.

Bukan karena pengen.

Tapi karena "HARUS".


---

إرسال تعليق

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...