Notification texts go here Contact Us Buy Now!

BAB 1 KUAT TAPI BOONG

goweb3

Kuat Tapi Boong

KUAT TAPI BOONG

BAB 1 — Kuat di Grup, Lembek di Kasur

Alarm bunyi jam 06.12.

Bukan jam bulat.
Karena hidup Raka juga gak pernah bulat.

Tangannya reflek nyari HP, matiin alarm, lalu nge-scroll layar tanpa tujuan.
Belum bangun, tapi udah capek.

Notifikasi WhatsApp numpuk.
Grup kantor rame duluan sebelum mata Raka bener-bener melek.

Grup Kantor:
“Pagi semuaaa! Semangat yaa hari ini 💪🔥”

Raka ngetik cepat, tanpa mikir:

“Gaskeun 🔥😎”

Dua emotikon.
Satu buat nutup mata panda.
Satu buat nutup pikiran yang belum siap hidup.

HP ditaruh di samping bantal.
Raka bengong natap langit-langit kamar kosannya yang warnanya udah gak jelas itu putih apa abu-abu capek.

“Kenapa ya hidup gak ada tombol skip?” gumamnya.

Kalau ada, dia pengen skip ke hari yang dia gak perlu pura-pura kuat.


-----> Raka bangun pelan.
Bukan karena semangat, tapi karena takut telat.

Takut telat kerja.
Takut gaji kepotong.
Takut hidup makin ribet.

Di kamar mandi, dia nyiram muka lama-lama.
Berharap air dingin bisa nyiram pikiran juga.

Cermin ngeliatin dia balik.
Mata agak cekung.
Rambut ngaco.
Wajah orang yang sering bilang “gapapa” ke semua orang.

Raka senyum dikit ke pantulan itu.

“Lu kuat,” katanya pelan.

Pantulannya diem.
Mungkin gak percaya.
Atau capek denger kebohongan yang sama tiap pagi.


-----> Di dapur kos, Raka bikin kopi sachet.
Kopi murah, rasa pahit, gula dikit.
Mirip hidupnya sekarang.

Dia duduk di kursi plastik, nyeruput kopi sambil mikir:

"Orang dewasa tuh bangun karena mimpi atau karena tanggung jawab sih?"

Kalau dipikir-pikir, mimpi Raka udah lama gak bangunin dia.
Yang bangunin justru alarm, tagihan, dan rasa takut ketinggalan.

HP bunyi lagi.
Ada yang bales chat-nya.

“Wih Raka selalu paling semangat 😆”

Raka senyum kecil.
Padahal dalem hatinya dia pengen ngetik:

Gue bukan semangat, gue cuma gak mau ditanya.

Tapi tentu aja itu gak dikirim.


---> Perjalanan ke kantor biasa aja.
Macet, klakson, muka-muka lelah di motor dan mobil sebelah.

Raka mikir:

"Ini semua orang sebenernya capek, atau cuma gue yang lebay?"

Sampai kantor, Raka masuk dengan senyum yang sama.

“Pagi, Rak!”
“Wih cerah banget lu.”
“Bawa vibe positif nih.”

Raka ketawa kecil.
“Ah biasa aja.”

Padahal senyum itu udah kayak seragam.
Dipakai biar aman.
Biar gak ditanya macem-macem.


-----> Di meja kerjanya, laptop kebuka, kerjaan mulai.
Raka ngerjain semuanya.
Beres.
Tapi kosong.

Bukan capek fisik.
Lebih ke capek yang gak bisa ditunjuk.

Kayak ada beban di dada, tapi gak tau bentuknya apa.

Siang hari, Dito nyeletuk,
“Rak, lu keliatan kuat banget sih orangnya.”

Raka ketawa.
“Apaan sih.”

Dalam hati dia mikir:

"Kuat dari mana, bos? Gue aja pengen rebahan dan ilang sebentar".

 

-----> Sore datang.
Orang-orang pulang.

Raka masih duduk.
Bukan karena lembur.
Tapi karena gak pengen cepet-cepet balik ke kamar yang sunyi.

Akhirnya dia berdiri, keluar kantor, naik motor, dan pulang juga.

Di kamar, Raka rebahan.
Lampu mati.
HP di tangan.

Dia buka Instagram.
Lihat orang bahagia.
Lihat orang sukses.
Lihat orang kuat.

Raka senyum.

“Semua orang kuat ya,” katanya pelan.

Terus dia ketawa sendiri.
Bukan karena lucu.
Tapi karena kalau gak ketawa, dia takut mikir lebih jauh.

Malam itu, sebelum tidur, Raka nutup mata sambil berbisik:

“Besok gue kuat lagi ya.”

Walaupun dia tau…

kuatnya cuma boong.


Post a Comment

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...